Selasa, 27 Oktober 2009

PENGARUH BEBAN ANGIN TERHADAP STRUKTUR ROOF TOP TOWER TELEPON SELULER

PENGARUH BEBAN ANGIN TERHADAP STRUKTUR ROOF TOP TOWER TELEPON SELULER
Mahmud Kori Effendi, Triono Subagio

Abstract
Meningkatnya kebutuhan terhadap teknologi komunikiasi yang murah dan mudah, memaksa penyedia layanan telepon seluler untuk memperbaiki sinyal jaringan telepon seluler. Sebagai konsekuensi dari perkembangan ini, maka harus diiringi dengan bertambahnya. Pembuatan konstruksi menara pada daerah permukiman yang mendapat tekanan dari masyarakat, harus memperhatikan kekuatan dari menera telepon seluler. Masyarakat hendak mengetahui kekuatan dari menara, terutama struktur menara pada lokasi di atas atap bangunan penduduk. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis strukutur rangka 3 D dengan menggunakan Program SAP 2000. Beban yang bekerja pada struktur ini terdiri dari beban mati yang berupa berat menara sendiri termasuk berat antene dan tangga. Beban hidup berasal dari beban manusia. Beban angin dihitung berdasarkan TIA/EIA-222-F Standard: Structural of standard for Steel Antenna Towers and Antenna Supporting Structures. Beban angin dihitung pula berdasarkan Peraturan Pembebanan Indonesia untuk Gedung 1983. Dari hasil hitungan dengan menggunakan SAP 2000 diperoleh goyangan sebesar 0,3040o

Tugas 7.
Eki Hardi Saputro (41407010004)

RELE JARAK SEBAGAI PROTEKSI SALURAN TRANSMISI

RELE JARAK SEBAGAI PROTEKSI SALURAN TRANSMISI

Sistem transmisi memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyaluran daya. Oleh karena itu pengaman pada saluran transmisi perlu mendapat perhatian yang serius dalam perencanaannya. Sistem transmisi sendiri merupakan sistem dinamis kompieks yang parameter‐parameter dan keadaan sistemnya berubah secara terus menerus.

Pada prinsipnya rele jarak adalah mengukur nilai arus dan nilai tegangan pada suatu titik tertentu dan kemudian
membandingkannya dengan suatu nilai seting tertentu untuk menentukan apakah rele narus bekerja atau tidak. Supaya rele dapat berfungsi dengan baik dalam kapasitasnya sebagai pengaman saluran transmisi maka perlu adanya kordinasi antara satu rele dengan rele di terminal lawannya juga dengan rele pada seksi-seksi berikutnya. Kordinasi rele jarak selama ini berdasarkan parameter saluran transmisi dengan kompensasi perkiraan besarnya gangguan yang dihitung secara off‐line. Tetapi dengan keadaan sistem yang berubah‐ubah yang mengakibatkan parameter saluran transmisi juga berubah serta adanya gangguan yang tidak bisa diperkirakan besarnya, maka seting rele yang ada bisa menjadi tidak selektif.

Masalah‐rnasalah yang timbul pada saluran transmisi, diantaranya yang terutama adalah:
1. Pengaruh perubahan frekuensi sistem
2. Pengaruh dari ayunan daya pada sistem
3. Pengaruh gangguan pada sistem transmisi

Sistem Proteksi
Proteksi sistem tenaga listrik adalah pengisolasian kondisi abnormal pada sistem TL untuk meminimalkan pemadaman dan kerusakan yang lebih lanjut. Dalam merancang sistem proteksi, dikenal beberapa falsafah proteksi, yaitu:
1. Ekonomi : Peralatan proteksi mempunyai nilai ekonomis.
2. Selektif : Dapat mendeteksi dan mengisolasi adanya gangguan.
3. Ketergantungan : Proteksi hanya bekerja jika terjadi gangguan.
4. Sensitif : Mampu mengenali gangguan, sesuai setting yang ditentukan, walau gangguannya kecil sekalipun.
5. Cepat : Mampu bekerja dalam waktu yang sesingkat mungkin.
6. Stabil : Proteksi tidak mempengaruhi kondisi yang normal
7. Keamanan




http://qtop.wordpress.com/2008/04/20/rele-jarak-sebagai-proteksi-saluran-transmisi/

Minggu, 25 Oktober 2009

Tugas Rungkasan 4 Reyhan Aulia Ega Tama (41407010013)

Peningkatan Kinerja Lampu TL (Fluorescent) pada Catu Daya dengan Regulasi Tegangan Buruk


Abstrak
Lampu TL dapat menyala dengan baik apabila dicatu (dipasang) pada sumber tegangan yang sesuai dengan rating
tegangan lampu TL tersebut, misal 220 volt, 50 Hz. Daerah Pedesaan (di Indonesia) pada umumnya sumber tegangan
(listrik) memiliki regulasi tegangan yang buruk. Buruknya regulasi tegangan pedesaan mengakibatkan lampu TL sulit
bahkan tidak dapat menyala. Lampu TL sebagai sumber penerangan memiliki beberapa keunggulan dibandingkan lampu
pijar. Kehadiran trafo ballast pada lampu TL adalah merugikan. Trafo ballast berfungsi hanya pada saat start, setelah lampu
TL menyala kehadiran trafo ballast mengakibatkan faktor daya menjadi rendah dan trafo ballast sendiri menyerap daya
aktif. Menghilangkan ballast elektromagnetik dan menggantikan dengan proses switching pada lampu TL menghasilkan
perbaikan faktor daya sekaligus lampu TL dapat menyala pada catu daya dengan regulasi tegangan yang sangat buruk.
Frekuensi switching yang tinggi menghasilkan ukuran induktor yang kecil. Induktor dipergunakan pada proses switching
untuk menghasilkan tegangan transient yang cukup untuk menyalakan lampu TL. Frekuensi Switching 800 Hz pada lampu
TL sebagai penganti trafo ballast menghasilkan faktor daya 0,86 leading. Jika lampu TL mempergunakan trafo ballast
maka faktor daya lampu TL tersebut 0,4 lagging. Lampu TL yang mempergunakan trafo ballast tidak dapat menyala pada
kondisi tegangan 160 volt tetapi switching dengan frekuensi lebih besar dari 800 Hz menghasilkan lampu TL dapat
menyala dengan sempurna pada kondisi tegangan 160 volt.
Pendahuluan
Lampu pijar sebagai sumber penerangan bagi
pemukiman ataupun komersial, akhir-akhir ini telah
banyak digantikan oleh Lampu TL (fluorescent
Lamp). Penggunaan lampu TL sebagai sumber penerangan
karena memiliki cahaya yang lembut (tidak
sakit dimata), cahaya lebih terang dan umur lebih
panjang daripada lampu pijar.
Lampu TL dapat menyala dengan baik apabila dicatu
(dipasang) pada sumber tegangan yang sesuai
Catatan: Diskusi untuk makalah ini diterima sebelum tanggal 1 Desember
2005. Diskusi yang layak muat akan diterbitkan pada Jurnal Teknik Elektro
volume 6, nomor 1, Maret 2006.
dengan rating tegangan lampu TL tersebut, misal 220
volt, 50 Hz. Daerah Pedesaan (di Indonesia) pada
umumnya sumber tegangan (listrik) memiliki regulasi
tegangan yang buruk. Buruknya regulasi tegangan
didaerah pedesaan mengakibatkan lampu TL sulit
bahkan tidak dapat menyala. Disebabkan karena
buruknya regulasi tegangan didaerah pedesaan
mengakibatkan penggunaan lampu pijar lebih umum
dibandingkan lampu TL.
Lampu TL biasanya dilengkapi dengan trafo ballast
(ballast transformer) dan starter yang fungsinya
untuk membatasi aliran arus dan menyediakan
tegangan transien yang sesuai untuk penyalaan
katoda [Liang dkk, 2001]. Trafo ballast dilihat dari
cara kerjanya ada dua jenis yaitu ballast elektroJurnal
magnetik dan ballast elektronik. Ballast elektromagnetik
bekerja atas dasar induksi elektromagnetik
dengan frekuensi sama dengan frekuensi sumber.
Ballast elektronik bekerja dengan prinsip resonant
inverter yang dilakukan dengan proses switching
pada frekwensi tinggi. Tegangan transien dari
resonant inverter tergantung pada komponen bejana
resonansi (L dan C) sehingga tegangan transien dapat
menjadi lebih besar dari tegangan sumber.
Sebagian besar daerah pedesaan di Indonesia tidak
dapat menggunakan lampu TL karena tegangan
listrik di desa pada umumnya sangat buruk. Melihat
fenomena ini maka diperlukan suatu penelitian agar
lampu TL dapat menyala dengan baik pada daerah
yang tegangannya buruk.



Supriono, I Nyoman Wahyu Satiawan
Staff Pengajar Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unram
Jl. Majapahit No. 62, Mataram–NTB 83125
Email: supriono.rio@lycos.com



jawaban pertanyaan
1.Fuad (41408010019). Jealaskan proses switching ?
Proses switching merupakan proses yang menghubungkan keluaran input menuju keluaran output pada lampu TL untuk menghasilkan perbaikan faktor daya sekaligus lampu TL dapat menyala pada catu daya dengan regulasi tegangan yang sangat buruk.

2.Rahmat (41408010014). Jelaskan maksud dari trafo ballast ?
Trafo ballast marupakan starter yang fungsinya untuk membatasi aliran arus dan menyediakan tegangan transien yang sesuai untuk penyalaan katoda. Trafo ballast dilihat dari cara kerjanya ada dua jenis yaitu ballast elektro magnetik dan ballast elektronik. Ballast elektromagnetik bekerja atas dasar induksi elektromagnetik dengan frekuensi sama dengan frekuensi sumber. Ballast elektronik bekerja dengan prinsip resonant inverter yang dilakukan dengan proses switching pada frekwensi tinggi.

3.Rain Ardianto (41407010011). Jelaskan tegangan transient ?
Tegangan transient adalah tegangan yang berfungsi untuk menyediakan aliran arus yang sesuai untuk penyalaan katoda. Aliran arus tersebut berasal dari trafo ballast yang telah dibatasi tegangannya oleh stater trafo ballast tersebut.

4.Laura Zinniah Vallentine (41407010003). Berapa faktor daya yang baik untuk lampu TL dan lampu pijar ?
Untuk lampu TL mempunyai faktor daya yang rendah yaitu sekitar 220 volt. Sedangkan untuk lampu pijar mempunyai faktor daya yang tinggi yaitu sekitar 500 volt, sehingga untuk didaerah pedesaan penggunaan lampu pijar kurang cocok.

Kamis, 22 Oktober 2009

DIAGNOSIS PENYAKIT JANTUNG DAN PARU SECARA OTOMATIS (Tugas 7)

Selama ini peralatan medis yang digunakan dalam mengetahui kondisi jantung dan paru pasien adalah menggunakan stetoskop. Teknik ini biasa disebut dengan auskultasi. Masalah yang ditemui dalam teknik ini adalah tentang noise lingkungan, kepekaan telinga, frekuensi dan amplitude yang rendah, serta pola suara yang relatif sama. Suara-suara ini biasanya dibandingkan dengan suara jantung atau paru orang normal.

Jika terdapat kelainan maka ada sesuatu yang tidak normal pada kondisi baik jantung maupun paru. Pola abnormal ini bermacam-macam bahkan sulit untuk dibedakan secara manual. Dengan teknik-teknik pengolahan Sinyal digital (PSD) dapat diaplikasikan sebuah sistem yang menganalisa sinyal-sinyal bawaan tersebut yang nantinya akan dianalisa spektrum untuk mengetahui seberapa besar tingkat keberhasilannya dalammengetahui kondisi jantung maupun paru secara otomatis.
Beberapa bekerja dengan domain waktu dan sebagian bekerja dalam domain frekuensi.

Sistem dan teknik
Perangkat berupa perangkat keras berupa stetoskop elektronik dan perangkat lunak yang ter-install dalam PC. Serta data base suara jantung dan paru normal yang disertai pula dengan database pendukung lainnya.

Proses Pengolahan Sinyal
Proses yang dilakukan terdiri dari proses normalisasi, ekstrasi ciri dan proses klasifikasi.

Proses
Proses yang dilakukan berupa penyeragaman pada data agar parameter-parameter data menjadi sama.
Bererapa parameter ini meliputi:
1. frekuensi sampling
2. resolusi rekaman
3. lama rekaman
4. format data

Visualisasi
Visualisasi suara jantung dapat dilakukan dengan berbagai teknik. Visualisasi ini selain untuk mengetahui suara jantung atau paru tetapi juga dapat untuk melihat secara kasar kandungan informasinya.

Ekstraksi Ciri
Ekstraksi ciri dapat dilakukan baik domain waktu maupun domain frekuensi. Tiap pemilihan ini tergantung pada asumsi yang digunakan.

Classifier
Setelah ekstraksi ciri dilakukan, langkah berikutnya adalah mengenali ciri dari tiap data yang diambil. Dengan ini dapat digolongkan pendiagnosisan suara jantung maupun paru baik secara otomatis maupun secara analisis.
Pengenalan suara jantung dan paru menggunakan pengolahan sinyal digital memberikan hasil yang menjanjikan untuk membantu tenaga medis dalam melaksanakan tugasnya. Hasil auskultasi masih menyisakan ruang yang cukup besar untuk penelitian. Selain masalah teknis yang masih banyak belum diteliti dalam pengolahan hasil auskultasi. Ternyata masih banyak hasil auskultasi yang belum diteliti. Misalnya auskultasi lambung untuk gastro enterologi.

Sumber :

Jurnal Penelitian Achmad Rizal (Jurusan Teknik Elektro), Vera Suryani (Jurusan Teknik Informatika) STT Telkom. Bandung.

NANOTEKNOLOGI, ANTARA IMPIAN DAN KENYATAAN (Tugas 6)

Sesuai dengan namanya, nanoteknologi adalah teknologi pada skala nanometer,atau sepersemilyar meter.Dari sudut pandang ukuran atas ke bawah(top-down) seperti itu, nanoteknologi menjadi penting dalam dunia rekayasa karena manusia berusaha untuk mengintegrasikan suatu fungsi atau kerja dalam skala ukuran yang lebih kecil dan lebih kecil.

Sebagai contoh yang mudah kita pahami adalah apa yang terjadi pada dunia
komputer dan mikroprosesor. Pabrik-pabrik mikroprosesor seperti IBM, Intel dan Motorola terus berusaha mempertinggi tingkat integrasi mikroprosesornya.
Jarak yang lebih kecil antar gerbang berarti makin kecilnya waktu yang diperlukan
untuk perjalanan suatu elektron (artinya switching rate makin cepat) dan berarti pula
makin kecilnya daya yang diperlukan prosesor tersebut.

Lebih dari itu, makin banyak fungsi yang bisa diintegrasikan dalam prosesor tersebut, seperti built-in multimedia,pemrosesan suara, dan lain sebagainya.Selain itu, teknologi pemrosesan IC ini mulai digunakan pula untuk mengintegrasikan fungsi-fungsi mekanik dan elektrik untuk membuat mesin, sensor atau aktuator pada ukuran milli, mikro, hingga nanometer.Struktur mikro yang mengintegrasikan fungsi mekanik dan elektrik inilah yang biasa disebut Nanoteknologi saat ini tengah ramai dibicarakan. Bahkan,negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jepang, Australia, Kanada dan negara-negara Micro Electro Mechanical System (MEMS).


Daftar Pustaka:

Dedy H.B. Wicaksono, Alumnus Teknik
Fisika ITB, kandidat doktor bidang Biomimetic
Sensor di Dept. Microelectronics,
Technische Universiteit Delft, Belanda.



.

Rabu, 21 Oktober 2009

SISTEM PEMANTAUAN TANAMAN BERBASIS JARINGAN SENSOR NIRKABEL PADA GREEN HOUSE (Tugas 5)


Tanaman, secara otomotis dipantau pertumbuhannya dengan sistem yang menggunakan sensor nirkabel (sensor tanpa kabel/kawat). Sistem pemantauan tanaman ini dapat mengontrol kadar air, energi dan unsur hara yang dibutuhkan tanaman dengan mengukur nilai suhu, tekanan, dan kelembaban di sekitar tanaman.
Sistem yang dilakukan pada greenhouse ini terdiri dari tiga bagian, yaitu :
• sistem pengukuran
sensor yang digunakan adalah sensor suhu LM35, sensor tekanan ASDX-015A24R, dan sensor kelembaban HS1101. Sensor akan mengukur nilai parameter tanaman yaitu suhu, tekanan, dan kelembaban di sekitar tanaman. Sensor suhu akan menghasilkan tegangan, sensor tekanan dan sensor kelembaban, outputnya adalah frekuensi pulsa yang dapat dilihat menggunakan osiloskop digital. Bagaimana kita mengetahui nilai suhu, tekanan dan kelembabannya dari data analog tersebut? yaitu dengan cara melihat tabel hubungan antara tegangan dan suhu, hubungan frekuensi pulsa dan tekanan, hubungan frekuensi pulsa dengan kelembaban, yang tercantum pada datasheet sensor masing-masing.
• sistem informasi
bagian akuisisi data berperan untuk mengolah data fisik tanaman tersebut menjadi data yang siap untuk dikirim ke pusat pengolahan data untuk dilakukan proses penyimpanan dan analisis.
• sistem pengolah data
pengolah data menggunakan Mikrokontroler ATMega128, sedangkan modul transceiver RF yang digunakan adalah Chipcon CC1100 yang bekerja pada frekuensi 433 MHz.
Skema sistem pemantauan tanaman

Jaringan sensor nirkabel (JSN) untuk aplikasi greenhouse ini terdiri dari empat node sensor dalam topologi klaster dengan susunan : 1 kepala klaster dan 3 node sensor, terdistribusi dan terhubung tanpa kabel pada topologi jaringan greenhouse, serta perangkat lunak berupa protokol MAC berbasis TDMA. Keempat node sensor ini berfungsi untuk berbagi informasi antar node, yang dihubungkan dengan bridge node. Node sensor pada physical layer dan protokol Medium Access Control (MAC) berbasis Time Division Multiple Access (TDMA) pada data link layer. JSN ini menggunakan pendekatan cross-layer, yang artinya proses perancangan tidak hanya terfokus pada satu layer protocol layer saja namun keseluruhan layer secara komprehensif.
Gambaran mengenai empat node sensor pada greenhouse ini dapat dilihat pada gambar di bawah ini.
Lalu, bagaimana cara kerjanya? keempat node sensor akan mengirimkan data parameter tanaman (yaitu suhu, tekanan dan kelembaban yang masih berupa tegangan) ke base station melalui bridge node nya dengan menggunakan RF Transceiver 433 MHz, seperti pada gambar di atas itu. Kemudian dari base station ini data dikirim secara nirkabel ke mikrokontroler untuk diproses, lalu dikirim secara serial ke komputer dan data dapat dilihat pada hyperterminal.
Dengan cara ini, petani dapat mengetahui kondisi tanamannya secara real time dan kapan saja tanpa perlu mengukurnya sendiri. Jadi diharapkan tanaman akan selalu sehat karena diperhatikan tiap hari, lalu produksi dan kualitasnya meningkat.

Skema fungsi perangkat keras


Pengujian pada lapangan


penulis:
ADAM ALIYYA MACHFUD
SEKOLAH TEKNIK ELEKTRO DAN INFORMATIKA
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
2008

SISTEM PENGONTROL SUHU AIR PADA MOBIL BERBASIS MIKROKONTROLER AT89C51 (Tugas 4)

Membuat Rangkaian Driver Aktuator

Rangkaian aktuator dibangun dari sebuah transistor dengan resistor dioda dan relay. Prinsipnya dengan membuat rangkaian Common Emitter dari transistor-NPN. Dengan memamfaatkan prinsip ini dibangun driver untuk buzzer dan kipas


Membuat Rangkaian Seven Segment
Aplikasi yang dipakai pada rangkaian seven segmen yang berfungsii untuk menampilkan data pada seven segment dengan menggunakan metode scanning display. Metode ini bekerja menampilkan data pada dua buah seven segment secara bergantian. Namun, dengan kecepatan tinggi, akan tampak seolah-olah bersamaan.

Cara Pengoperasian Alat
Setelah melakukan tahap perancangan dari alat pengukur suhu air dengan menggunakan mikrokontroller AT89C51 sehingga terciptanya alat tersebut maka kita memasuki tahap pengoperasian. Langkah ini kita maksudkan agar kita dapat mengetahui kerja dan fungsi alat tersebut secara keseluruhan. Dengan demikian dapat kita bandingkan antara perancangan dengan alat tersebut yang telah kita buat
Cara pengoperasian alat yaitu :
1. Kita posisikan saklar pada posisi ON power suply
2. Pastikan bahwa settingan temperatur pada alat sudah benar.
3. Pastikan alat bekerja dan seven segment menunjukan suhu kerja air.
4. Kipas akan mulai bekerja setelah temperatur menunjukan 95 ºC dan akan mulaiberhenti bekerja pada temperatur 87 ºC.
5. Buzzer akan mulai bekerja jika temperatur kerja diatas batas yang sudah ditentukan dalam hal ini 95 ºC, dan kipas tetap bekerja.
Catatan : buzzer akan bekerja jika dalam sistem pendinginan dalam hal ini pendinginan air padamobil terjadi masalah ( over heating ).
6. Kita pastikan kipas akan bekerja secara terus menerus sesuai dengan temperatur kerja mobil.

KESIMPULAN

1. Pembacaan suhu air pada mobil dapat dilihat dengan mudah dengan adanya tampilan suhu air pendingin pada display seven segment.
2. Adanya sistem peringatan pada si pengemudi jika terjadi masalah pada sistem pendinginan pada mobil, yaitu buzzer.


DAFTAR PUSTAKA
1. Afgianto Eko Putra, ”Belajar Mikrokontroller AT89C51/52/55 Teori dan Aplikasi” Penerbit Gava Media, Yogyakarta 2002.
2. Cooper, William David, ”Instrumentasi Elektronik dan Teknik Pengukuran”. Erlangga, Jakarta 1985.
3. Dajan Anto. ”Pengantar Metode Statistik ” jilid 1, Penerbit PT Pustaka LP3ES. Indonesia 1986
4. Hasan, M.M, Ir. Iqbal. “Pokok-pokok Materi Statistik 1 (Statistik Deskriptif), Edisi ke-2. Penerbit Bumi Aksara. Jakarta 2003.
5. http://www.dontronics.com/index.html - Dontronics - Maker of PIC and 8051 boards. Useful info.
6. http://www.proaxis.com/~iguanalabs/ - Iguana Labs - Good example projects (ie blinking LED) for AT89C51 and AT89C2051.
7. Ibrahim KF, ”Teknik Digital”, diterjemahkan oleh Ir. P. Insap Santosa, Msc, penerbit ANDI, Yogyakarta, 2001.